Seperti hari-hari biasanya, seperti malam-malam sebelumnya. Kantuk yang ku damba itu tak kunjung datang, dan entah mengapa mata yang lelah ini tak juga terpejam. Aku hanya bisa duduk bersila dan menghadapkan muka kusamku ke layar kaca. Ditemani sebatang rokok kretek yang ku jepit disela telunjuk dan jari tengahku.
Sesekali tanganku meraih remote TV, ku pindahkan chanel dari satu stasiun ke stasiun lain. Tak ada yang bisa ku temukan. Tak ada yang bisa menemaniku terbelalak di malam itu.
Dingin ini biasa ku rasakan, gelap ini juga biasa ku pandang. Tak asing bagiku matinya alam di kala malam. Terlihat jarum jam yang merapat ke arah angka tiga dan duabelas. “Sudah jam tiga pagi,” ku bilang dalam hati.
Tanganku kembali bergerak, menuju letak perngontrol TV berada. Telunjukku tepat diatas tombol angka sepuluh. Aku teringat acara yang non stop memutarkan musik saat dini hari. Dengan hati yakin, ku beri telunjukku itu energy yang kuat untuk menekan tombol angka sepuluh. Seketika layar cembung didepan mukaku itu berubah hitam, dan menampilkan kembali gambar dan suara yang baru.
Sejenak mata dan telingaku masih merasa asing. Ku coba beradaptasi dengan nada dan gambar yang baru menemaniku. Ternyata jaringan sarafku begitu lambat. Berdetik-detik ku perhatikan, otak kecilku baru mampu mencerna informasi itu. “Anjing!! Band Malaysia?” teriaku sambil mengusap rambut kuat-kuat.
Nada-nada minor yang mereka mainkan membuat gendang telinga ini bergetar keluar batas. Ditambah lantunan syair Melayu yang menambah penderitaan kedua telingaku ini. Kasihan benar telingaku, disuguhi musik sampah dari Negeri Sampah, Negeri Maling.
Untung saja itu penghujung lagu. Dengan segera ku bisa tahu siapa penyanyi negeri munafik yang berani-beraninya mengirim klip untuk bergabung di blantika music nusantara. Ku baca dengan seksama, tertulis nama “Sultan”. Memori otakku terbuka, dia salah satu penyanyi Malaysia yang pernah tenar di negeri ini sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat musisi-musisi negeri pencuri itu merajai dunia musik Indonesia.
Kini, saat kreatifitas anak bangsa berjaya di tanah sendiri, relakah kita menyerahkan kejayaan itu? Lalu kenapa bibit-bibit music Malaysia itu kembali muncul? Hm… ST12, Kangen Band, Wali, dan band-band tai sejenis itulah yang menyebabkannya. Music melayu kembali menjadi tren di nusantara, musisi “Maling Asia” pun serasa menemukan lahan empuk mengembangkan sayap mereka.
Saat ini, musisi kita berjaya di negeri Jiran tanpa nada melayu. Haruskah keadaan terbalik? Akankah kembali ke era sepuluh tahun yang lalu ketika kreatifitas anak bangsa terinjak-injak di rumah sendiri? Let’s say, “Malaysia Anjing! Malaysia Babi! Malaysia Tai!” (Gum)
DOMYAK ,