Musik Melayu, Musik Sampah

Seperti hari-hari biasanya, seperti malam-malam sebelumnya. Kantuk yang ku damba itu tak kunjung datang, dan entah mengapa mata yang lelah ini tak juga terpejam. Aku hanya bisa duduk bersila dan menghadapkan muka kusamku ke layar kaca. Ditemani sebatang rokok kretek yang ku jepit disela telunjuk dan jari tengahku.

Sesekali tanganku meraih remote TV, ku pindahkan chanel dari satu stasiun ke stasiun lain. Tak ada yang bisa ku temukan. Tak ada yang bisa menemaniku terbelalak di malam itu.

Dingin ini biasa ku rasakan, gelap ini juga biasa ku pandang. Tak asing bagiku matinya alam di kala malam. Terlihat jarum jam yang merapat ke arah angka tiga dan duabelas. “Sudah jam tiga pagi,” ku bilang dalam hati.

Tanganku kembali bergerak, menuju letak perngontrol TV berada. Telunjukku tepat  diatas tombol angka sepuluh. Aku teringat acara  yang non stop memutarkan musik saat dini hari. Dengan hati yakin, ku beri telunjukku itu energy yang kuat untuk menekan tombol angka sepuluh. Seketika layar cembung didepan mukaku itu berubah hitam, dan menampilkan kembali gambar dan suara yang baru.

Sejenak mata dan telingaku masih merasa asing. Ku coba beradaptasi dengan nada dan gambar yang baru menemaniku. Ternyata jaringan sarafku begitu lambat. Berdetik-detik ku perhatikan, otak kecilku baru mampu mencerna informasi itu. “Anjing!! Band Malaysia?” teriaku sambil mengusap rambut kuat-kuat.

Nada-nada minor yang mereka mainkan membuat gendang telinga ini bergetar keluar batas. Ditambah lantunan syair Melayu yang menambah penderitaan kedua telingaku ini. Kasihan benar telingaku, disuguhi musik sampah dari Negeri Sampah, Negeri Maling.

Untung saja itu penghujung lagu. Dengan segera ku bisa tahu siapa penyanyi negeri munafik yang berani-beraninya mengirim klip untuk bergabung di blantika music nusantara. Ku baca dengan seksama, tertulis nama “Sultan”. Memori otakku terbuka, dia salah satu penyanyi Malaysia yang pernah tenar di negeri ini sekitar sepuluh tahun yang lalu. Saat musisi-musisi negeri pencuri itu merajai dunia musik Indonesia.

Kini, saat kreatifitas anak bangsa berjaya di tanah sendiri, relakah kita menyerahkan kejayaan itu? Lalu kenapa bibit-bibit music Malaysia itu kembali muncul? Hm… ST12, Kangen Band, Wali, dan band-band tai sejenis itulah yang menyebabkannya. Music melayu kembali menjadi tren di nusantara, musisi “Maling Asia” pun serasa menemukan lahan empuk mengembangkan sayap mereka.

Saat ini, musisi kita berjaya di negeri Jiran tanpa nada melayu. Haruskah keadaan terbalik? Akankah kembali ke era sepuluh tahun yang lalu ketika kreatifitas anak bangsa terinjak-injak di rumah sendiri? Let’s say, “Malaysia Anjing! Malaysia Babi! Malaysia Tai!” (Gum)

Negara Hukum Buta Hukum (Undang-undang Perlindungan Konsumen)

Pada dasarnya, seluruh masyarakat adalah konsumen. Pedagang atau produsen sekalipun, pada jenis produk tertentu bisa digolongkan sebagai konsumen.  Terlebih dengan sifat masyarakat Indonesia yang konsumtif. Proses jual beli menjadi salah satu kegiatan pokok.

Namun, ditengah pentingnya kegiatan jual beli, sering kali konsumen tidak mengetahui hak-hak mereka dalam jual beli. Padahal, itu semua telah diatur dalam Undang-undang perlindungan konsumen. Sehingga banyak konsumen yang dengan sadar ataupun tidak, dirugikan oleh pihak produsen atau pedagang. Begitupun dengan pihak penjual. Mereka tidak mengetahui hak dan kewajiban sebagai penjual.

Ini semua tidak lepas dari kurangnya pengetahuan hukum masyarakat Indonesia. Padahal, dengan adanya pengetahuan hukum yang memadai, kehidupan bernegara di republic ini akan tertata dengan baik. Dengan begitu perlu adanya tindakan pemerintah untuk meningkatkan pengetahuan hukum masyarakat. Ataukah pemerintah dengan sengaja membuat masyarakat buta hukum? Dengan tujuan agar masyarakat Indonesia mudah untuk dibodohi.

Untuk mengetahui seberapa besar pengetahuian masyarakat terhadap Undang-undang Perlinmdungan Konsumen, pada Juni 2008 kami melakukan sebuah penelitian. Dalam penelitian ini, kami menggunakan angket sebagai media. Angket tersebut berisi tiga pertanyaan seputar perundang-undangan, dan satu pertanyaan tentang dunia jurnalistik sebagai bidang yang kami dalami saat ini. Pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan kepada responden adalah sebagai berikut:

  1. Apakah anda mengetahui Undang-undang perlindungan konsumen?
  2. Jika anda tahu, sebutkan poin-poinnya!
  3. Peraturan perundang-undangan apa yang benar-benar anda ketahui?
  4. Apa pandangan anda terhadap wartawan/jurnalis di Indonesia?

Angket tersebut kami sebarkan kepada 140 orang responden. Para responden mewakili beberapa kelompok masyarakat, diantaranya:

  1. Produsen        (10 orang)
  2. Pedagang        (30 orang)
  3. Konsumen umum   (60 orang)
  4. Pelajar         (40 orang)

Dari hasil penelitian ini, didapatkan hasil sebagai berikut:

  1. Dari 140 orang responden, tidak ada satupun yang mengetahui Undang-undang perlindungan konsumen.
  2. Dari 140 orang responden;
  • 6 orang mengetahui Undang-undang Pers
  • 10 orang mengetahui Undang-undang Hak cipta
  • 6 orang mengetahui Undang-undang Lalu Lintas
  • 118 orang tidak mengetahui satu pun peraturan perundang-undangan

Berdasarkan data yang kami dapatkan, bisa di tarik kesimpulan bahwa pengetahuan hukum di Indonesia sangat rendah. Padahal Indonesia merupakan Negara hukum yang seharusnya sudah terbentuk budaya hukum. namun jangankan terbentuk budaya hukum, pengetahuannya saja jmasih minim.

Untuk menciptakan budaya hukum, terdapat tiga tahapan yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Pendidikan hukum
  2. Sosialisasi hukum
  3. Penegakan hukum

Dari teori tersebut, kami selaku penyusun karya tulis ini mengajukan beberapa saran, diantaranya:

Pengadaan mata pelajaran dasar ilmu hukum sejak dari bangku SLTP. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan hukum masyarakat melalui pendidikan.

Melakukan sosialisasi peraturan perundang-undangan yang baru disahkan melalui berbagai media massa. Hal ini dilakukan terus-menerus selama proses sosialisasi yang telah ditetapkan.

Pembentukan badan khusus untuk mengawasi proses peradilan, dan segala bentuk proses hukum lainnya. Badan tersebut memiliki kewenangan khusus layaknya KPK. Ini bertujuan untuk meningkatkan penegakkan hukum di Indonesia.(Gugum Rachmat G, Hilmi A.H, M. Iqbal R, mahasiswa jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

DOMYAK, PUSAKA PURWAKARTA

cover-buku4DOMYAK , PUSAKA PURWAKARTA

Penulis : Gugum Rachmat Gumilar

Tebal : 77 halaman

Penerbit : Madesu Cipta Pustaka

Indonesia memiliki begitu banyak kesenian tradisional. Bentangan nusantara dari Sabang sampai Merauke memberikan warna-warni tersendiri dalam kehidupan masyarakat kepulauan ini. Bangga dengan kekayaan budaya yang ada, itu pasti. Namun sayang, kebanggaan itu tak disertai kemauan melestarikan kebudayaan itu sendiri. Entah berapa banyak kesenian tradisional punah karena ketidakpedulian si empunya budaya.

Domyak merupakan salah satu kesenian yang tengah sekarat. Kesenian asli Purwakarta ini hanya menyisakan satu kelompok seniman saja. Andaikan seniman-seniman itu telah tiada, tentu saat itulah ajal menjemput Domyak. Tanpa regenerasi, tanpa kaum muda yang mau melanjutkan jejak, seni tradisional Domyak tinggal menghitung hari menjelang kepunahannya.

Kesenian tradisional yang berawal dari upacara ritual meminta hujan ini kian tenggelam dibunuh zaman. Jangankan masyarakat luas, penduduk Purwakarta sendiri pun banyak yang tidak mengenal nama Domyak. Padahal, ini adalah harta kekayaan. Ini adalah titipan, yang harus kita jaga agar sampai pada tangan anak cucu kita.

Itulah yang hendak diangkat penulis dalam buku ini. Seluk beluk Domyak, dari sejarah, bentuk pergelaran, hingga profil seniman, semuanya terdapat dalam buku ini. Tak ketinggalan, Kota Purwakarta sebagai tempat tumbuhkembangnya Domyak pun dibahas, termasuk kisah sedih para seniman yang hampir putus harapan.

Selain menambah wawasan budaya, buku ini juga memberikan gambaran betapa melaratnya kesenian-kesenian negeri ini, khususnya Domyak. Sehingga pembaca disadarkan dari ketidakpedulian mereka terhadap kekayaan ibu pertiwi. Kekayaan yang merupakan jati diri dan karakter bangsa. Jangan sampai bangsa ini tenggelam menjadi bangsa tanpa jati diri dan karakter.

Meski terdapat beberapa kekurangan dalam segi materi, karena terbatasnya sumber dan referensi, buku ini sangat penting dan berguna. Khususnya bagi remaja dan anak muda yang merupakan pewaris seni budaya. Semoga buku ini bisa turut melestarikan seni tradisional Purwakarta, dan Indonesia.

Mahalnya Demokrasi

Sejak jatuhnya orde baru, banyak perubahan kita dirasakan. Entah itu perubahan menjadi lebih baik, atau malah semakin buruk. Mulai dari sisi ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga yang dianggap paling kotor dan jahat, dunia politik.

Untuk menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, dunia politik melakukan perombakan. Semua dilakukan atas nama demokrasi. Diantaranya dalam pemilihan kepala daerah. Dari mulai bupati, hingga pemimpin negara ini, semua dipilih langsung masyarakat. Tidak ada lagi pemilihan oleh anggota dewan. Karena pemilihan jenis itu dianggap sarat politik uang, dan itu bertentangan dengan cita-cita demokrasi.

Setelah perubahan dilakukan, dampaknya mulai terasa. Indonesia dinobatkan sebagai negara paling demokratis. Itu karena indonesia berhasil mengubah teknis pemilihan kepala daerah. Politik uang dikalangan anggota dewan pun berkurang. Namun, bukan berarti pilkada langsung tidak memberikan dampak buruk. Masalah baru muncul, APBN terkuras habis untuk Pilkada.

Hal ini menjadi bumerang bagi negara kita. Reformasi yang dielu-elukan dan diharapkan mengubah kehidupan bangsa menjadi lebih baik, ternyata malah menimbulkan masalah baru. Terkurasnya APBN menyebabkan anggaran kebutuhan negara lainnya terbatas. Salah satunya untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM). Akibatnya, pemerintah tidak memiliki anggaran cadangan yang cukup untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak dunia. Jika suatu saat harga minyak dunia melonjak, kebutuhan subsidi BBM membengkak, tentu pemerintah akan kebingungan. Langkah terakhir pastinya menaikan harga BBM seperti yang sudah-sudah. Andaikan pilkada tidak menyerap begitu banyak uang negara, tentu masyarakat akan merasa lebih tenang dengan harga minyak saat ini.

Masalah lain berkenaan dengan pilkada adalah munculnya konflik. Terlalu banyak kerusuhan terjadi karena ketidakpuasan kandidat yang kalah. Kerusuhan antar pendukung calon hampir selalu menjadi buntut pilkada.

Demokrasi harus tetap berlangsung, tapi bukan berarti harus juga mengorbakan kepentingan lain. Apalagi kepentingan yang langsung dirasakan masyarakat. Salah satu solusinya adalah mencari bentuk lain pesta politik masyarakat Indonesia tersebut. Bentuk lain yang tidak membuat negara ini merogoh kantongnya sangat dalam.

Pilkada tidak mungkin dihapus, lagi-lagi atas nama demokrasi. Namun bukan berarti bentuk pelaksanaan pilkada tidak bisa diganti. Banyak cara lain bisa dilakukan untuk mengganti prosesi pilkada saat ini. Cara yang praktis, hemat, namun lebih efektif dan efisien.

Teknologi saat ini sudah maju, tidakkah kita terpikir menyelenggarakan pilkada dengan sistem internet? pemerintah bisa membuat situs khusus pemilihan umum. Dalam situs tersebut terdapat data-data pemilih. Tentu saja data hasil sensus penduduk. Setiap TPS cukup menyediakan dua sampai tiga buah komputer dilengkapi layanan internet. Pada setiap komputer disediakan satu orang pemandu, mengingat tidak semua orang memahami teknologi komputer. Pendaftaran pemilih dilakukan dengan registrasi data diri sebelum memilih, bisa berupa nama dan nomor pemilih. Setelah itu, pemilih bisa menggunakan haknya menentukan pemimpin pilihannya. Dengan begitu, pendataan pemilih ketika pilkada berlangsung akan lebih terjamin. Tidak perlu menggunakan tinta untuk membedakan pemilih yang sudah dan yang belum menggunakan haknya. Hasil pemilihan pun bisa diketahui secara instan oleh KPU, yang dalam hal ini bisa disebut sebagai server.

Dengan cara ini, pemerintah bisa menghemat biaya pelaksanaan pilkada. Tidak perlu membeli computer sebagai sarana. Bukankah barang seperti itu bisa didapatkan dengan menyewa? Anggota PPS pun bisa dikurangi. Tiap TPS hanya membutuhkan satu orang ketua PPS, dan dua orang pemandu computer. Tidak perlu penjaga tinta atau pencatat data pemilih. Waktu penghitungan suara pun bisa di pangkas, karena hasil pemilihan sudah bisa terbaca dalam system computer (internet) secara instan.

Daftar Pustaka

www.google.com

www.jurnalbungsu.co.nr

Harian Kompas

Jurnalistik Media Elektronik

Selain media cetak, penyebaran informasi atau berita juga dilakukan melalui media elektronik. Jenis media elektronik yang digunakan adalah televise dan radio.

Jurnalistik Radio

Radio adalah media yang bersifat auditori (untuk didengar). Karena itu, menyampaikan informasi melalui radio relatif lebih sulit dibandingkan dengan televisi. Ketika pembaca berita menyajikan informasi, ia harus bisa menggambarkan peristiwa tersebut secara jelas, sehingga bisa ditangkap oleh imajinasi pendengar. Inilah yang membuat radio disebut sebagai theatre of mind.

Penulisan teks berita radio (untuk dibaca oleh news reader) harus menggunakan bahasa yang mudah dibaca oleh news reader dan mudah pula didengar oleh audiens. Untuk mencapai tujuan tersebut, jurnalis radio menggunakan teori ELF (Easy Listening Formula), yaitu penulisan yang jika diucapkan, mudah didengar dan mudah dimengerti pada pendengaran pertama. Karena dalam radio tidak ada pengulangan. Tidak seperti media cetak yang bisa dibaca beberapa kali oleh penerima informasi.

Walaupun radio identik dengan hiburan, namun tidak berarti semua radio melulu menyuguhkan hal itu. Seiring berkembangnya dunia jurnalistik, banyak radio khusus berita yang tumbuh dan berkembang, bahkan dengan sangat pesat. Sebagai contoh, kita mengenal radio Elshinta dan Trijaya Network. Kedua radio ini menyuguhkan beragam informasi dan berita. Tidak menjadikan musik atau hiburan sebagai produk utama.

Di kancah internasional kita mengenal radio VOA (Voice of America). Radio ini merupakan radio khusus berita yang sudah mendunia. Berita disajikan dalam berbagai bahasa. Tentu saja berita itu datang dari berbagai penjuru dunia.

Pada awalnya, tumbuh keraguan terhadap media-media elektronik yang secara khusus menyajikan produk jurnalistik. Karena media elektronik identik dengan hiburan. Kehadiran media elektronik yang malulu menyuguhkan berita, hanya akan membuat masyarakat jenuh untuk menyaksikan dan mendengarkannya. Namun itu semua tidak terbukti, justru kehadiran radio dan televisi khusus berita menghilangkan dahaga masyarakat, dan memenuhi kebutuhan mereka terhadap informasi. Mengingat kurangnya porsi pemberitaan yang ada pada media hiburan.

Jurnalistik Televisi

Berdasarkan pengamatan para ahli pertelevisian, informasi dari televisi diingat lebih lama dibanding dengan yang diperoleh melalui membaca (media cetak). Sekalipun informasi yang disuguhkan persis sama. Hal itu karena terdapatnya visualisasi berbentuk gambar bergerak dalam televisi. Visualisasi tersebut berfungsi sebagai penambah dan pendukung narasi yang dibaca reporter atau newsreader. Jadi, dalam menerima informasi, khalayak tidak hanya menggunakan satu indera, melainkan dua indera sekaligus. Yaitu mata dan telinga.

Hal inilah yang menjadi keunggulan media televisi dibanding media informasi lainnya. Efisiensi jurnalistik televisi pun lebih meyakinkan.

Berbagai macam produk jurnalistik televisi disuguhkan kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka akan informasi. Diantara produk-produk jurnalistik televisi tersebut adalah:

1. News (berita)

Setiap televisi memiliki acara khusus berita. Baik itu televisi pemerintah, swasta, bahkan lokal. Sebagai contoh, di SCTV terdapat program Liputan 6, Trans TV memiliki program Reportase, RCTI dengan Seputar Indonesia, dan lain sebagainya.

2. Interview (wawancara)

Program wawancara ini bisa dimasukkan sebagai bagian dari program news. Namun kini, kebanyakan televise memilih membuat acara khusus untuk wawancara narasumber terkait masalah-masalah aktual.

3. Feature

Produk jurnalistik seperti ini menyajikan berita ringan. Seperti tempat-tempat wisata, aneka makanan, kebudayaan, dan lain sebagainya.

4. Editorial

Dalam jurnalistik media cetak kita mengenal istilah tajuk rencana. Begitu juga dengan media elektronik. Melalui editorial, redaktur menuturkan opini dan sikap resmi media tersebut dalam menanggapi suatu permasalahan yang sedang ramai di tengah masyarakat.

5. Live reporting atau siaran pandangan mata

Laporan pandangan mata merupakan program siaran langsung dari tempat kejadian. Sering juga disebut on the spot reporting. Namun tidak semua pelaporan jenis ini disiarkan langsung pada waktu yang sebenarnya. Sebagai contoh, tidak semua pertandingan sepak bola disiarkan secara langsung, melainkan ada pula yang merupakan siaran tunda.

Dalam jurnalistik televise, berita dapat diklasifikasikan menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Hard news (berita berat)

Hard news adalah berita yang mengulas peristiwa penting bagi masyarakat luas. Seperti berita ekonomi, kriminal, politik, dan pendidikan.

2. Soft news (berita ringan)

Berita seperti ini juga sering disebut feature. Isinya bisa berupa informasi mengenai tampat wisata, kuliner, dan lain sebagainya.

3. Investigative report

Merupakan jenis berita eksklusif yang berdasarkan penyelidikan. Sehingga penyajiannya membutuhkan waktu yang relatif lama. Namun menyuguhkan informasi yang lengkap dan belum tentu diketahui oleh masyarakat yang hanya mendapat informasi melalui program news.

Jurnalistik Media Cetak

Salah satu media yang digunakan dalam dunia jurnalistik adalah media cetak. Bentuk media cetak diantaranya surat kabar (Koran), majalah, dan tabloid. Meski di era teknologi ini bermunculan media-media yang lebih canggih, namun tidak menggoyahkan posisi media cetak sebagai salah satu alat komunikasi massa. Bahkan, banyak ahli komunikasi yang meyakini media cetak tidak akan punah. ini didasari oleh kelebihan dan kekurangan masing-masing media.

Sebagai contoh, para ahli membandingkan media cetak (Koran), televisi, dan radio. Koran memang membutuhkan kemampuan dan memauan untuk membaca, tapi harganya sangat ekonomis. Sedangkan televise memiliki harga yang lebih mahal dan membutuhkan perangkat lain, walaupun memang khalayak tidak perlu memiliki kemampuan dan kemauan untuk membaca karena disuguhi informasi yang bersifat audio visual. Lain halnya lagi dengan radio, walaupun hanya menyuguhkan informasi dalam bentuk audio, tapi penggunaan radio relative lebih mudah dan praktis.

Hal inilah yang mendasari keyakinan para ahli komunikasi bahwa media cetak memang tidak akan punah. Setiap media memiliki kelebihan dan kekurangn masing-masing. Namun, justru dengan kelebihannya, suatu media bisa menutupi kekurangan media lainnya.

Isi Koran bisa diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yang ketiganya merupakan unsur dari Koran itu sendiri. Yaitu, berita (news), opini (views), dan iklan (advertising). Namun, dari ketiga unsure tersebut, hanya berita dan opini saja yang termasuk produk jurnalistik.

Dengan mengambil contoh harian Pikiran Rakyat, penulis akan mengulas singkat unsure-unsur media cetak tersebut. Dalam harian PR,berita disajikan dalam beberapa rubrik. Diantaranya, rubrik Jawa Barat, Bandung Raya, bisnis dan ekonomi, sosial dan politik, olah raga, dan kriminal.

Sedangkan yang termasuk ke dalam opini adalah surat pembaca, kolom, artikel, karikatur, pojok, dan tajuk rencana atau sering disebut editorial.

Surat pembaca adalah opini singkat pembaca berisi keluhan atau komentar, baik menyangkut kepentingan pribadi, maupun kepentingan umum. Tulisan ini dimuat dalam rubric khusus surat pembaca. Rubrik surat pembaca lebih merupakan layanan publik dari media untuk masyarakat.

Kolom merupakan opini singkat seseorang yang lebih banyak menekankan pada aspek pengamatan terhadap suatu persoalan di masyarakat. Kolom lebih bersifat memadat memakna. Kolom ditulis secara inferensial, tidak referensial.

Berbeda dengan kolom, artikel merupakan tulisan lepas berisi opini seseorang yang membahas tuntas suatu mesalah yang bersifat aktual atau kontroversial, dan bertujuan untuk menginformasikan, mempengaruhi, meyakinkan, atau menghibur. Artikel bersifat memapar dan melebar, serta ditulis secara referensial.

Karikatur adalah opini redaksi media yang disajikan dalam bentuk gambar yang penuh dengan unsure kritik, namun dibaurkan dengan kelucuan, anekdot, dan humor.

Pojok diartikan sebagai kutipan pernyataan singkat narasumber atau suatu peristiwa yang menarik dan ckntroversial yang kemudian ditanggapi dan dikomentari oleh redaksi dengan kata-kata yang reflektif, mengusik, dan menggelitik.

Tajuk rencana berarti opini, pendapat, dan sikap resmi media terhadap persoalan aktual, kontroversial, atau fenomenal yang berkembang di masyarakat.

Dalam media cetak juga terdapat tempat khusus iklan. Ini merupakan salah satu fungsi ekonomi media massa. Bagaimanapun, pers adalah perusahaan. Tanpa iklan, mustahil terus hidup. Namun bukan berarti dunia jurnalistik mengutamakan pemasukan material dari iklan. Tidak sepantasnya sebuah media cetak mengesampingkan kualitas pemberitaan hanya untuk memperoleh keuntungan, baik dari pihak pengusaha yang memasang iklan, ataupun dari pihak konsumen yang membeli produk media cetak.

Terdapat tiga jenis pers menyangkut kebutuhan pers itu sendiri terhadap materi dan popularitas. Yaitu:

1. Pers berkualitas

Pers ini mengutamakan pendekatan rasional institusional. Benar-benar dikelola secara konseptual dan professional, serta memiliki ideologi. Meski begitu, pers ini tidak meninggalkan aspek orientasi bisnis.

2. Pers popular

Pers jenis ini menyajikan produk yang sesuai dengan selera zaman. Penyajiannya lebih kaya warna, cepat berubah, dan sangat mengikuti tuntutan pasar. Namun, pers popular menggunakan pendekatan yang kurang etis, bahkan terkadang emosional, meledak-ledak, dan bersifat sadistis. Karena lebih berfungsi sebagai pemberi informasi yang bersifat menghibur.

3. Pers kuning

Aturan keilmuan jurnalistik dipandang tidak penting oleh pers kuning. Penyajiannya tidak berdasar pada fakta. Melainkan pada ilusi, imajinasi, dan fantasi. Pemberitaan pers kuning didominasi oleh masalah sex, konflik, dan kriminal. Itu bertujuan untuk meraih sensasi belaka. Pers jenis ini tidak layak dan tidak patut dipercaya. Karena dalam pembuatan informasi, seringkali menyatukan opini pribadi dengan fakta. Bahkan tidak jarang, fakta yang ada cenderung diputarbalikan

Jurnalistik, Pers, dan Jurnalis

Jurnalistik berasal dari kata journal yang artinya catatan atau laporan. Jurnalistik juga bisa dinyatakan sebagai pengembangan dari bahasa belanda journalistiek yang artinya penyiaran catatan harian, dan dari bahasa Francis journ yang berarti hari atau harian.

Pertumbuhan dan perkembangan dunia jurnalistik berawal dari masa Yunani kuno yang ketika itu berada dibawah kekuasaan pemerintahan Raja Julius Cesar. Ketika itu terdapat sebuah media massa yang dinamakan acta diurna. Media tersebut berbentuk mejalah dinding yang dipajang di pusat kota secara teratur. Majalah dinding itu berisi informasi tentang hasil rapat pemerintahan. Karena jasanya itu, Raja Julius Cesar dijuluki bapak perintis pers.

Secara terminology jurnalistik bisa diartikan sebagai kegiatan mencari, mengolah, dan menyebarluaskan informasi kepada khalayak luas dengan menggunakan media secara berkala.

Informasi adalah keterangan, pesan, gagasan, atau pemberitahuan mengenai suatu peristiwa atau masalah. Dalam dunia jurnalistik, informasi berbentuk berita (news), opini (views), dan paduan antarafakta dan opini (feature).

Media massa adalah saluran, alat, atau sarana yang digunakan dalam proses komunikasi massa. Saat ini, dunia jurnalistik menggunakan setidaknya tiga jenis media massa, yaitu, media cetak, media elektronik, dan media online.

Berbicara tentang pengertian jurnalistik, sudah sepantasnya kita membicarakan pula istilah pers dan jurnalis. Banyak orang yang menganggap jurnalistik dan pers adalah suatu hal yang sama. Padahal, meski keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, jurnalistik dan pers itu berbeda.

Jurnalistik lebih kepada bidang atau aktivitas, sedangkan pers adalah lembaga yang melakukan kegiatan jurnalistik itu sendiri. Dan jurnalis adalah bagian dari pers, yang melakukan kegiatan jurnalistik. Jurnalis tidak hanya wartawan atau reporter, semua orang dalam naungan pers yang terlibat dalam pencarian, pengumpulan, dan penyebaran informasi, disebut jurnalis. Jadi, jurnalis itu terdiri dari wartawan, reporter, juru kamera, redaktur, editor, coordinator liputan, dan lain sebagainya.

Sudah Jelek, Jarang Pula…

Sore itu, ruangan tertutup yang hanya berukuran sekitar 12×12 meter disesaki lebih dari 120 orang. Padat, pengap, gerah. Tanpa jendela sebagai lubang udara. Semua dinding ruangan itu ditutup kain besar berwarna hitam. Hanya ada sebuah pintu yang menjadi jalan mesuk angin segar. Orang-orang itu tampak kecewa. Sambil mengipangipaskan tangan untuk mengusir gerah, hidung mereka menghirup kencang berebut oksigen. Tersiksa…

Mereka adalah para mahasiswa semester III Jurnalistik UIN Bandung. Menjalani kegiatan belajar mengajar tidak dalam keadaan yang semestinya. Mereka kecewa dengan keadaan. Tapi tak ada yang bisa dilakukan.

Ruangan pengap itu biasa disebut laboratorium fakultas. Pantaskah disebut demikian? Hanya ada TV, computer, infokus, OHV, tripod tanpa kamera, dan sepasang sound system murahan didalamnya. Semua itu pun tak selalu ada disana. Benda paling setia di ruangan itu hanyalah sebuah kipas angina yang ada di sudut ruangan. Pengobat gerah karena tak adanya fentilasi. Padahal sebagai lab. Fakultas Dakwah dan Komunikasi, seharusnya tersedia alat-alat praktik media massa. Seperti kamera, mikrofon, soundmixer, dan fasilitas media lainnya.

Memang, uang kuliah kami hanya 600 ribu rupiah tiap semesternya. Ditambah 300 ribu sebagai uang praktikum. Tapi coba kalikan dengan jumlah mahasiswa yang ada. Mahasiswa jurnalistik angkatan 2007 saja lebih dari 100 orang. Belum terhitung mahasiswa angkatan dan jurusan lain di fakultas ini. Terlalu sederhana lab. Itu disbanding uang praktikum yang terkumpul.

Tak hanya sederhana, intensitas pemakaian pun minim. Setahun lebih dikampus tercinta ini, baru tiga kali kaki kami menginjak lantai labaratorium.

Salah satu dari ketiganya adalah ketika kami berkesempatan untuk praktik reportase. Namun, ada apa ini? Saat memasuki ruangan kelam itu, tak kami temukan satu pun alat reportase. Setelah sejenak menunggu, tiba saatnya dosen memberikan pengarahan. Ia berkata,”Anggap saja kipas angina itu kamera, dan pegang remot control ini sebagai mikrofon”. Pengarahan yang aneh.

Rinaldo dan Enrico Piaggio

Pasangan ayah dan anak ini selalu menjadi bahan pembicaraan di dekade ‘50 sampai ‘70-an. Ya, mereka adalah pencetus kendaraan paling fenomenal sepanjang masa. Kendaraan yang angka penjualannya belum bisa tertandingi oleh merek apapun. Itulah Piaggio, lebih dikenal dengan Vespa.
Pada tahun 1884, Rinaldo mendirikan pabrik Piaggio yang bertempat di
Genoa, Italia. Pabrik itu memproduksi kapal, kereta api, dan truk. Bahkan, sejak Perang Dunia pertama meledak, Piaggio memproduksi pesawat tempur. Namun, di akhir Perang Dunia ke-2, pesawat sekutu menyerang pabrik ini. Riwayat Piaggio pun hampir tamat.
Di masa sulit itu, anak dari Rinaldo, Enrico mengambil alih Piaggio. Dengan berakhirnya Perang Dunia II, produksi kendaraan tempur pun dihentikan. Sebagai gantinya, melihat perekonomian Italia yang tengah terpuruk, Enrico berniat memproduksi kendaraan pribadi sederhana. Dibantu karyawan lamanya, Corradino D’Ascanio, yang juga merupakan insinyur dan ahli persawat terbang, Enrico memulai pekerjaannya.
Ia membuat kendaraan roda dua yang diadaptasi dari pesawat tempur. Suspensi dan ban dirancang monoshock, serupa dengan rancangan ban pesawat. Bahkan, produk pertama Vespa benar-benar menggunakan ban depan pesawat tempur. Bodi dibuat dari bahan besi. Dan yang paling unik, starter dibuat dari komponen bom.
Akhirnya, pada tahun 1945 munculah produk pertama Piaggio. Dinamai Vespa P108. Vespa diambil dari kata “Wesp” yang artinya binatang penyengat sejenis lebah. Jika dilihat dari atas, Vespa memang terlihat seperti lebah.
Diluar dugaan, kendaraan ini laris luar biasa. Kurang dari sepuluh tahun, Vespa terjual lebih dari 1 juta unit. Lebih dari itu, Vespa tidak hanya diproduksi di Itali, tapi juga di Jerman dan Inggris. Demam Vespa juga merambah Perancis,
Spanyol, Brazil, India, Great Britain, dan Belgia, selain tentunya di Itali, Jerman, dan Inggris.
Melihat kesuksesan Vespa, banyak pabrik yang ingin memproduksi kendaraan serupa. Di Italia sendiri muncul kendaraan Velocivero dari pabrik Italjet dan Cagiva Cucciolo pabrikan Cagiva. Sementara dari luar Itali muncul Bajaj dari India, skuter Rabit dari Jepang, NSU dari Jerman, DKW, Zundapp, Lambretta, dan Heinkel.
Hingga kini, meski sudah lebih dari setengah abad, Vespa masih mewabah di seluruh belahan dunia, termasuk
Indonesia. Bahkan, Indonesia termasuk salah satu Negara dengan kendaraan dan komunitas Vespa terbanyak.
Salam Scooterist…

Viking VS The Jak

Banyak yang tidak tahu dan bertanya, bagaimana sebenarnya permusuhan Viking dengan the jak bermula. Mengapa timbul rasa benci dalam benak masing-masing dari mereka. Hingga kini, keduanya masih saja berseteru. Bahkan semakin meruncing.

Penyebabnya sepele dan manusiawi, rasa iri. Iri hati dan sirik inilah yang membuat keduanya bermusuhan. Rentang waktu 1985 hingga 1995 adalah masa keemasan Persib. Sementara Viking yang berdiri tahun 1993 begitu setia mendukung klub kebanggaan warga Jawa Barat itu. Dimanapun Persib bermain, disana pasti ada Viking. Termasuk jika bermain di Jakarta. Semua menjadi lautan biru.

Inilah yang membuat anak muda ibukota iri. Selain kejayaan Persib kala itu, kesetiaan Viking membuat hati mereka panas. Saat itu muda-mudi betawi baru mampu membentuk kolompok kecil bernama Persija Fans Club. Walaupun begitu, kebesarkepalaan mereka sudah sangat menjadi. Hingga terjadilah insiden di stadion Menteng. Saat Persija menjamu Maung Bandung pada Liga Indonesia ke-2. Viking membirukan Ibukota dengan sekitar 9000 anggotanya. Sementara Persija Fans Club hanya berjumlah tak lebih dari 1000 orang. Rupanya bocah-bocah betawi itu tak rela kandangnya dikuasai supporter kota lain. Mereka pun membuat ulah. Seakan lupa jumlah mereka tak lebih dari 10% anak-anak Bandung. Hingga akhirnya, mereka mendapatkan akibatnya. Dengan kuantitas yang hanya satu tribun VIP, lemparan batu diarahkan Viking pada lokasi mereka menonton. Dan itu dilakukan Viking di Jakarta. Hal yang tidak berani dilakukan bocah Jakarta di Kota Kembang.

Singkat cerita, pada tahun 1997, muda-mudi ibukota ikut-ikutan membentuk perkumpulan supporter. Mereka menamakannya the jakmania.

Kebodohan the jak terekspos keseluruh negeri ketika mereka tak berdaya menghadapi Viking dalam kuis Siapa Berani. Kuis yang menguji wawasan dan kemampuan berpikir. Itu merupakan edisi khusus kuis Siapa Berani, edisi supporter sepak bola. Menghadirkan Viking, the jak, Pasoepati (Solo), Aremania, dan ASI (Asosiasi Suporter Indonesia). Pemenangnya, Viking. Perwakilan Viking berhasil melewati babak bonus dan berhak atas uang tunai 10 juta rupiah.

Seperti biasanya, rasa iri dari the jak muncul. Malu dikalahkan di kotanya sendiri, ketua the jak saat itu, Ferry Indra Syarif memukul Ali, seorang Viker yang menjadi pemenang kuis. Sungguh perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang ketua. Ketuanya saja begitu, apalagi anak buahnya?

Kejadian itu terjadi di kantin Indosiar, ketika dilangsungkannya acara pemberian hadiah. Kontan keributan sempat terjadi, namun berhasil diatasi.

Kesirikan the jak tak sampai disitu. Mereka menghadang rombongan Viking dalam perjalanan pulang menuju Bandung, tepatnya di pintu tol Tomang. Anak-anak Bandung yang berjumlah 60 orang pulang dengan menggunakan dua mobil Mitsubishi Colt milik Indosiar dan satu mobil Dalmas milik kepolisian. Ketiga mobil ini dihadang sebuah Carry abu-abu. Dua lolos, namun nahas bagi salah satu Mitsubishi Colt yang ditumpangi para anggota Viking. Mobil itu terperangkap gerombolan the jak. Kontan, mobil dirusak, Viking disiksa, dan uang para pendukung pangeran biru itu pun dijarah. Termasuk handphone dan dompet mereka.

Tercatat sembilan anggota Viking mengalami luka-luka. Tiga diantaranya terluka parah. Namun sayang, pihak kepolisian lamban dalam menyelesaikan kasus ini. Termasuk dalam menangkap the jak yang merampok dan menganiaya anggota Viking Persib Club.

Hingga saat ini perseteruan kedua kelompok supporter itu masih terus berlanjut. Viking, yang memiliki anggota terbanyak di Indonesia, memiliki kreatifitas tinggi, terbukti dengan julukan “Bandung kota mode, musik, dan seniman” (bahkan the jak pun belanja ke Bandung), dengan the jak yang memiliki title kota ibukota. Entah kapan ini berakhir…

« Entri lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.