Jurnalistik Media Cetak

Salah satu media yang digunakan dalam dunia jurnalistik adalah media cetak. Bentuk media cetak diantaranya surat kabar (Koran), majalah, dan tabloid. Meski di era teknologi ini bermunculan media-media yang lebih canggih, namun tidak menggoyahkan posisi media cetak sebagai salah satu alat komunikasi massa. Bahkan, banyak ahli komunikasi yang meyakini media cetak tidak akan punah. ini didasari oleh kelebihan dan kekurangan masing-masing media.

Sebagai contoh, para ahli membandingkan media cetak (Koran), televisi, dan radio. Koran memang membutuhkan kemampuan dan memauan untuk membaca, tapi harganya sangat ekonomis. Sedangkan televise memiliki harga yang lebih mahal dan membutuhkan perangkat lain, walaupun memang khalayak tidak perlu memiliki kemampuan dan kemauan untuk membaca karena disuguhi informasi yang bersifat audio visual. Lain halnya lagi dengan radio, walaupun hanya menyuguhkan informasi dalam bentuk audio, tapi penggunaan radio relative lebih mudah dan praktis.

Hal inilah yang mendasari keyakinan para ahli komunikasi bahwa media cetak memang tidak akan punah. Setiap media memiliki kelebihan dan kekurangn masing-masing. Namun, justru dengan kelebihannya, suatu media bisa menutupi kekurangan media lainnya.

Isi Koran bisa diklasifikasikan ke dalam tiga jenis, yang ketiganya merupakan unsur dari Koran itu sendiri. Yaitu, berita (news), opini (views), dan iklan (advertising). Namun, dari ketiga unsure tersebut, hanya berita dan opini saja yang termasuk produk jurnalistik.

Dengan mengambil contoh harian Pikiran Rakyat, penulis akan mengulas singkat unsure-unsur media cetak tersebut. Dalam harian PR,berita disajikan dalam beberapa rubrik. Diantaranya, rubrik Jawa Barat, Bandung Raya, bisnis dan ekonomi, sosial dan politik, olah raga, dan kriminal.

Sedangkan yang termasuk ke dalam opini adalah surat pembaca, kolom, artikel, karikatur, pojok, dan tajuk rencana atau sering disebut editorial.

Surat pembaca adalah opini singkat pembaca berisi keluhan atau komentar, baik menyangkut kepentingan pribadi, maupun kepentingan umum. Tulisan ini dimuat dalam rubric khusus surat pembaca. Rubrik surat pembaca lebih merupakan layanan publik dari media untuk masyarakat.

Kolom merupakan opini singkat seseorang yang lebih banyak menekankan pada aspek pengamatan terhadap suatu persoalan di masyarakat. Kolom lebih bersifat memadat memakna. Kolom ditulis secara inferensial, tidak referensial.

Berbeda dengan kolom, artikel merupakan tulisan lepas berisi opini seseorang yang membahas tuntas suatu mesalah yang bersifat aktual atau kontroversial, dan bertujuan untuk menginformasikan, mempengaruhi, meyakinkan, atau menghibur. Artikel bersifat memapar dan melebar, serta ditulis secara referensial.

Karikatur adalah opini redaksi media yang disajikan dalam bentuk gambar yang penuh dengan unsure kritik, namun dibaurkan dengan kelucuan, anekdot, dan humor.

Pojok diartikan sebagai kutipan pernyataan singkat narasumber atau suatu peristiwa yang menarik dan ckntroversial yang kemudian ditanggapi dan dikomentari oleh redaksi dengan kata-kata yang reflektif, mengusik, dan menggelitik.

Tajuk rencana berarti opini, pendapat, dan sikap resmi media terhadap persoalan aktual, kontroversial, atau fenomenal yang berkembang di masyarakat.

Dalam media cetak juga terdapat tempat khusus iklan. Ini merupakan salah satu fungsi ekonomi media massa. Bagaimanapun, pers adalah perusahaan. Tanpa iklan, mustahil terus hidup. Namun bukan berarti dunia jurnalistik mengutamakan pemasukan material dari iklan. Tidak sepantasnya sebuah media cetak mengesampingkan kualitas pemberitaan hanya untuk memperoleh keuntungan, baik dari pihak pengusaha yang memasang iklan, ataupun dari pihak konsumen yang membeli produk media cetak.

Terdapat tiga jenis pers menyangkut kebutuhan pers itu sendiri terhadap materi dan popularitas. Yaitu:

1. Pers berkualitas

Pers ini mengutamakan pendekatan rasional institusional. Benar-benar dikelola secara konseptual dan professional, serta memiliki ideologi. Meski begitu, pers ini tidak meninggalkan aspek orientasi bisnis.

2. Pers popular

Pers jenis ini menyajikan produk yang sesuai dengan selera zaman. Penyajiannya lebih kaya warna, cepat berubah, dan sangat mengikuti tuntutan pasar. Namun, pers popular menggunakan pendekatan yang kurang etis, bahkan terkadang emosional, meledak-ledak, dan bersifat sadistis. Karena lebih berfungsi sebagai pemberi informasi yang bersifat menghibur.

3. Pers kuning

Aturan keilmuan jurnalistik dipandang tidak penting oleh pers kuning. Penyajiannya tidak berdasar pada fakta. Melainkan pada ilusi, imajinasi, dan fantasi. Pemberitaan pers kuning didominasi oleh masalah sex, konflik, dan kriminal. Itu bertujuan untuk meraih sensasi belaka. Pers jenis ini tidak layak dan tidak patut dipercaya. Karena dalam pembuatan informasi, seringkali menyatukan opini pribadi dengan fakta. Bahkan tidak jarang, fakta yang ada cenderung diputarbalikan

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.